Home > News > Upaya NU dan Muhammadiyah Berantas Radikalisme dan Extremisme Tuai Apresiasi dari Publik Norwegia

Upaya NU dan Muhammadiyah Berantas Radikalisme dan Extremisme Tuai Apresiasi dari Publik Norwegia

Upaya menghilangkan ekstremisme dalam Islam yang dilakukan pemerintah Indonesia, antara lain melalui berbagai upaya damai yang dilakukan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah mendapat apresiasi dari masyarakat di Norwegia. Hal ini tercermin dari antusiasme para peserta seminar yang memadati seminar berjudul ‘Challenging Islamic Extremism in Indonesia’.

Seminar tersebut diselenggarakan atas kerja sama KBRI Oslo dan Peace Research Institute Oslo (PRIO) dan berlangsung pada Kamis, 20 Juni 2019. Sejumlah tokoh dan akademisi hadir dan memberikan paparan pada seminar tersebut, antara lain Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, dan Prof. Dr. Franz Magniz Suseno. Turut hadir sebagai pembicara adalah Yenni Wahid, Direktur Wahid Institute serta Marte Nilsen dan Trond Bakkevig, peneliti dari PRIO yang bergabung dalam panel pembicara di sesi tanya jawab.

Turut hadir membuka seminar adalah Dubes RI untuk Norwegia merangkap Islandia, Todung Mulya Lubis, yang menyampaikan bahwa kemunculan kelompok Islam radikal dan pemikiran ekstremisme di Indonesia merupakan sesuatu yang tidak dapat disanggah.

“Indonesia merupakan negara yang besar, dengan jumlah penduduk muslim yang sangat besar. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran extremisme dan radikalisme mulai masuk ke sejumlah kelompok Islam di Indonesia. NU dan Muhammadiyah, sebagai dua organisasi Islam terbesar di Indonesia memiliki pengaruh yang sangat vital dalam membina masyarakat dan menjaga agar pemikiran extremisme dan radikalisme tidak berkembang lebih jauh lagi di kelompok masyarakat muslim Indonesia,” ujar Dubes Mulya Lubis.

Dalam paparannya, Prof. Azra menjelaskan mengenai peran penting yang dimainkan NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi muslim terbesar di Indonesia dalam melawan isu radikalisme dan extremisme Islam. Menurutnya, organisasi muslim, termasuk NU dan Muhammadiyah sangat berpengaruh dalam memainkan proses mediasi dan menjembatani seluruh lapisan masyarakat dengan pemerintah, dan menjadi aktor penting dalam menciptakan dan menjaga perdamaian. NU dan Muhammadiyah juga sejak 2002 telah lebih banyak melakukan melakukan tindakan serius untuk melawan citra Islam yang keras dan tidak toleran, dan berupaya membangun citra Islam yang damai dan melindungi seluruh umat beragama lainnya.

Ditambahkan oleh Prof. Magniz-Suseno, Indonesia menjadi sebuah negara yang besar hingga saat ini tidak terlepas dari adanya rasa saling percaya dan toleransi yang besar antar pemeluk agama dan juga organisasi masyarakat, baik antara organisasi masyarakat Kristan dan Katolik dengan NU dan Muhammadiyah, maupun cendekiawan Muslim dan Kristen, ataupun pemuka agama Kristen, Katolik, dengan Islam.

“Keberhasilan Indonesia hingga saat ini sebagai negara yang damai, toleran, progresif, dan sukses secara ekonomi tidak dapat dilepaskan dari pengaruh besar yang dimainkan NU dan Muhammadiyah. Kedua organisasi tersebut secara konsisten memberikan dukungannya kepada pluralisme, kebebasan beragama, demokrasi dan penolakan terhadap Islam yang radikal dan ekstrim.

Dalam kesempatan ini, Prof. Magniz-Suseno kembali menegaskan dukungannya kepada NU dan Muhammadiyah untuk dapat meraih hadiah Nobel Perdamaian. Pastur, Teolog dan Budayawan dari Ordo Katolik Serikat Yesus ini menyatakan NU dan Muhammadiyah memiliki andil besar dalam merekatkan bangsa Indonesia yang sangat majemuk, bahkan jauh sebelum kemerdekaan. Kiprah NU dan Muhamadiyah tersebut tak hanya dirasakan oleh mayoritas kelompok muslim tapi juga oleh minoritas non-muslim. . Sebelumnya, pada Januari 2019 lalu dua organisasi Islam terbesar Indonesia ini telah dinominasikan sebagai penerima penghargaan Nobel Perdamaian.

“Saya sudah sejak lama sangat mengenal kedua organisasi ini. Kita tahu, Indonesia telah lama punya sejarah gerakan radikal. Seperti gerakan DI-TII tahun 1950 -1966 yang mengancam wilayah Jawa Barat, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Kemudian sekitar tahun tujuh puluhan beberapa ideologi Islam dari Timur Tengah, seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan Wahabi, menjalar di Indonesia. Demikian pula pengaruh mujahidin dari Afghanistan. Tokoh NU dan Muhamadiyah saat itu berjuang keras agar pengaruh-pengaruh tersebut berhenti berkembang”, ujar Romo Magnis

Dirinya menambahkan bahwa kehadiran NU dan Muhammadiyah justru memberikan perlindungan bagi kelompok minoritas.

“Intinya, sebagai pendeta katolik dan bagian dari kelompok minoritas saya mengakui NU dan Muhammadiyah meskipun jadi mayoritas tidak pernah menjadi ancaman bagi kami kelompok minoritas. Sebaliknya, kehadiran kedua organisasi ini di tengah masyarakat Indonesia memberikan rasa aman dan jaminan bahwa nilai-nilai pluralisme dan toleransi akan tetap terjaga dan tumbuh di Indonesia”, tutur Romo Magnis.

Lebih lanjut, Yenny Wahid menyampaikan bahwa peran dan pengaruh NU dan Muhammadiyah dalam menghadapi extremisme dan radikalisme seharusnya dapat juga merambah negara lain di luar Indonesia.

Yenny berpendapat bahwa setiap orang bisa saja terpengaru pemikiran radikalisme dan extremisme. Untuk itu, NU dan Muhammadiyah harus dapat memainkan membuat tidak hanya kontra narasi tetapi juga kontra identitas agar masyarakat muslim Indonesia dapat lepas dari pengaruh radikalisme dan extremisme.

Menghadapi pertanyaan dari peserta yang mengkuatirkan keadaan Indonesia yang dinilai semakin tidak kondusif dengan banyaknya kelompok Islam Radikal, Yenny, Magniz-Suseno, dan Azra sependapat bahwa kekhawatiran tersebut wajar, namun selama Indonesia masih memiliki organisasi Islam yang toleran dan damai seperti NU dan Muhammadiyah, maka Indonesia akan selalu utuh dan damai.

Oleh karena itu, Yenny menilai bahwa NU dan Muhammadiyah seharusnya bisa menjadi role model bagi seluruh organisasi muslim tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan dari kelompok Islam radikal dan ekstrem. NU dan Muhammadiyah seharusnya dapat menjadi contoh bagaimana Islam, masyarakat Muslim dapat hidup berdampingan dengan agama lain dan berbagai jenis budaya, sebagaimana dicontohkan di Indonesia.

Oslo, 20 Juni 2019
KBRI Oslo