Home > News > Economic > Pertemuan Strategis Dubes RI Oslo dengan Importir Seafood dan Produk Makanan/Minuman Kemasan Indonesia di Norwegia

Pertemuan Strategis Dubes RI Oslo dengan Importir Seafood dan Produk Makanan/Minuman Kemasan Indonesia di Norwegia

Dubes Todung Mulya Lubis didampingi Fungsi Ekonomi KBRI Oslo telah mengujungi Importir Norwegia (04/19), Sletten Norge AS (sektor seafood) dan Scanesia AS (sektor produk makanan/minuman kemasan). Pertemuan dilaksanakan untuk mengidentifikasi hambatan/tantangan yang dihadapi, khususnya proses impor, distribusi dan pemasaran komoditi hasil laut dan produk makanan/minuman kemasan dari Indonesia, sekaligus mencari solusi bersama (workable solutions) guna mendukung upaya peningkatan ekspor RI ke Norwegia.

Pertemuan juga diikuti dengan peninjauan gudang (warehouse) para importir dimaksud untuk melihat langsung penyimpanan produk-produk yang diimpor dari Indonesia dan proses pendistribusiannya kepada pelanggan di seluruh wilayah Norwegia, termasuk negara-negara Nordik dan Eropa lainnya (sebagai hub).

Sletten Norge AS

Pada pertemuan di kantor pusat Sletten Norge AS (SN-AS) di Oslo, CEO SN-AS, Mr. Mani Sletten, meyampaikan informasi mengenai beberapa produk yang selama ini diimpor langung (direct) dari Indonesia, yaitu berbagai jenis ikan laut (barramundi, tuna, red snapper, macarrel) dan komoditi hasil laut lainnya seperti kepiting (king crab), udang (emperor prawn/shrimp), cumi-cumi, lobster dan rumput laut.

Mr. Sletten menambahkan bahwa keseluruhan proses pembersihan, pemotongan, pengepakan (vacuum) dan pendinginan/pembekuan komiditi tersebut dilakukan di Indonesia, selanjutnya dikirim ke Norwegia dengan kapal laut (dalam kontainer), dengan volume rata-rata impor (dari seluruh negara) sekitar 10-20 ton per minggu. Beberapa perusahaan yang kini telah menjadi mitra kerja SN-AS di Indonesia, antara lain PT. Intimas Jakarta dan PT. Dharma. SN-AS mendistribusikan produk-produk yang diimpornya kepada whole-sellers di seluruh wilayah Norwegia dan Nordik, serta negara-negara Eropa lainnya (sebagai hub).

Beberapa hambatan/tantangan yang dihadapi SN-AS antara lain masih adanya dugaan injeksi karbon dalam komoditi tuna yang dilakukan oleh sebagian oknum untuk mempertahankan warna merah segar pada daging ikan, sehingga tidak cepat menjadi coklat (rotten), dan saat ini isu tersebut masih cukup sensitif bagi publik Norwegia. Hal lainnya yang masih menjadi kendala adalah isu kandungan zat histamine (scombrotoxin) yang cukup tinggi yang diduga ditemukan dalam komoditi tuna dan beresiko tinggi pada kesehatan manusia, antara lain disebabkan teknologi vacuum dan chilling/freezing yang kurang baik, serta kurangnya pengawasan/inspeksi atas produk ekspor komoditi hasil laut. Isu lainnya adalah kandungan antibiotik/zat kimia berbahaya yang cukup tinggi yang diduga masih ditemukan pada komoditi hasil laut, serta dugaan praktek-praktek penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan (unsustainable) dan tidak ramah lingkungan.

SN-AS menyarankan perlunya peningkatan suplai komoditi laut yang berkualitas baik dan sehat secara berkesinambungan (konstan), antara lain melalui peningkatan quality-control yang ketat, sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan konsumen (trust-building).

SN-AS menyatakan bahwa komoditi hasil laut Indonesia umumnya masih masuk dalam benchmark dan tropical-fish masih memiliki peluang besar di pasar Eropa. Namun demikian, para eksportir diharapkan dapat meningkatkan dan mempertahankan kualitas produknya, termasuk dalam hal traceability dan sustainability, sehingga dapat memenuhi prasyarat/sertifikasi yang ditetapkan di Eropa, khususnya di Norwegia.

Dubes RI menyampaikan bahwa kini Indonesia telah menjadi eksportir terbesar tuna di dunia. Indonesia juga memiliki banyak keunggulan, antara lain sebagai pemimpin dunia dalam pemberantasan Illegal, Unreported, Unregulated (IUU) Fishing dan pioneer dalam kerangka kerja sama The Agreement on Port State Measures (PSMA) FAO), sehingga tidak diragukan lagi dari segi legalitas dan traceability komoditi hasil laut. Dengan semakin gencarnya upaya pemberantasan IUU Fishing dan praktek penangkapan ikan (termasuk budidaya ikan) yang berkelanjutan, merupakan suatu keniscayaan bahwa komoditi hasil laut Indonesia akan semakin mendominasi pasar dunia di masa mendatang.

Dubes RI mendorong peran aktif SN-AS untuk bekerja sama meningkatkan volume dan nilai ekspor komoditi hasil laut Indonesia di Eropa, khususnya di Norwegia. Dubes RI juga mengundang partisipasi SN-AS dalam Trade Expo Indonesia (TEI) yang akan diselenggarakan di ICE BSD Banten bulan Oktober 2019, sekaligus pelaksanaan BtoB Meeting dan mengunjungi sentra-sentra penangkapan/budidaya/pengolahan ikan lestari (sustainable fisheries) di Indonesia.

Scanesia AS

Pada pertemuan dengan pemilik perusahaan Scanesia AS, Mrs. Emmy Jørgensen, yang dilaksanakan di gudang penyimpanan (warehouse) Scanesia AS, Oppegård, Ski (+ 37km selatan Oslo), Scanesia As menyampaikan bahwa perusahaanya telah beroperasi puluhan tahun mengimpor produk makanan/minuman kemasan dari Indonesia untuk dipasarkan di Norwegia, dan negara-negara Nordik.

Beberapa produk makanan/minuman kemasan Indonesia yang diimpor antara lain beragam bumbu masak dan sambal/kecap/saus kacang KOKITA, Mie Instan dan sambal/kecap ABC, mie/spagheti kemasan dan sambal/kecap/bumbu sate BALI Kithcen, NU Green Tea, Exotico (minuman kemasan), Permen Jahe (Sina – Sidoarjo), Bon Cabe KOBE, jus buah (kemasan) ABC, dan sebagainya.

Scanesia AS merupakan salah satu importir yang secara konsisten mengimpor dan memasarkan produk-produk yang mengandung minyak sawit Indonesia di Norwegia, sekaligus mendukung berbagai kampanye positif sawit Indonesia di Norwegia. Saat ini produk RI yang diimpor Scanesia AS telah dipasarkan di beberapa supermarket besar di Norwegia, seperti Meny, Kiwi, Rimi, ICA, Coop, Rema 1000, dan Europris.

Beberapa kendala yang masih dihadapi Scanesia AS antara lain besaran tarif masuk impor beberapa poduk Indonesia yang dinilai masih relatif tinggi dan menyebabkan harga jual produk menjadi lebih mahal sehingga sulit dipasarkan di Norwegia (kalah bersaing dengan produk serupa lainnya). Selain itu, kualitas produk juga seringkali masih cukup rendah dan tidak sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan pasar Eropa, termasuk dalam hal jaminan keberlangsungan (konstan) suplai produk berkualitas baik (sesuai standar Uni Eropa/Norwegia). Produk RI juga masih kurang dikenal luas oleh publik Norwegia, antara lain karena kurangnya promosi, serta banyaknya produk substitusi yang didukung dengan promosi yang mumpuni dan mudah diperoleh oleh pelanggan.

Isu lain yang mengemuka adalah masih adanya kampanye negatif terhadap sawit yang dituduh menyebabkan deforestasi dan kehancuran keanekaragamanhayati di wilayah hutan hujan tropis. Kampanye tersebut antara lain diusung oleh berbagai LSM dan pemerhati lingkungan, serta banyak diliput oleh media, sehingga sedikit banyak mempengaruhi opini publik Norwegia.

Dubes RI menyampaikan bahwa Indonesia dan negara-negara EFTA (termasuk Norwegia) tengah dalam proses ratifikasi perjanjian IE-CEPA yang diharapkan dapat mengurangi hambatan tarif dan memperlancar arus barang, sehingga dapat meningkatkan ekspor RI ke Norwegia. Dubes RI mendukung perlunya promosi produk RI secara berkelanjutan di Norwegia, yang pada akhirnya dapat semakin mengukuhkan eksistensi branding produk-produk RI dalam market-share di Norwegia.

Dubes RI juga mendorong peningkatan laju investasi dari Norwegia ke Indonesia guna mendukung pembangunan kapasitas industri nasional yang berorientasi ekspor, sehingga berdaya saing tinggi dan dapat memenuhi permintaan pasar internasional.

Disamping itu, Dubes RI juga menghimbau Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (MILN) dan Diaspora Indonesia untuk meningkatkan penggunaan produk-produk Indonesia yang telah banyak beredar di Norwegia dan mendukung promosi produk-produk RI di Norwegia, sebagai wujud kecintaan dan kontribusi pada pembangunan di tanah air. Dubes RI kembali mengundang Scanesia AS untuk berpartisipasi dalam TEI 2019 (sebelumnya Scanesia AS telah berpartisipasi pada TEI 2018).

Pertemuan berhasil mengidentifikasi tantangan, hambatan dan peluang ekspor RI ke Norwegia, khususnya komoditi hasil laut dan produk makanan/minuman kemasan dari Indonesia. Hasil-hasil pertemuan akan ditindaklanjuti dengan penguatan kerja sama yang lebih erat di antara jejaring pelaku bisnis Indonesia dan Norwegia. KBRI Oslo akan terus melakukan berbagai upaya terobosan dan strategis guna terus mendorong peningkatan volume dan nilai produk ekspor RI di Norwegia.