Home > News > Economic > Pertemuan Dubes RI Oslo Dengan TOMRA (Perusahaan Daur Ulang Terbesar Dunia)

Pertemuan Dubes RI Oslo Dengan TOMRA (Perusahaan Daur Ulang Terbesar Dunia)

Dubes RI didampingi Fungsi Ekonomi KBRI Oslo telah bertemu dengan Pimpinan TOMRA, yaitu Deputy CEO/CFO, Mr. Espen Gundersen dan VP Business Development, Mr. Kwok Ho. Pertemuan yang dilaksanakan di kantor pusat TOMRA di wilayah Asker (+ 26km barat Oslo), tanggal 11 April 2019 tersebut juga dilengkapi dengan demonstrasi penggunaan mesin-mesin canggih nan praktis yang dikembangkan TOMRA untuk proses penyimpanan (deposit), pemilahan (sort), dan daur ulang (re-cycle) botol/kemasan bekas.

TOMRA merupakan pemimpin industri daur ulang limbah dan logam dunia, dengan lebih dari 82.000 mesin penyimpanan (deposit), pemilah (sort) dan daur ulang (re-cycle) kemasan minuman/makanan (botol/gelas berbahan plastik/kertas/alumunium) yang telah beroperasi di 60 negara. TOMRA telah menjadi perusahaan daur ulang terbesar dunia, dengan market share sebesar 60% pangsa pasar daur ulang dunia.

Pemilahan (sorting) daur ulang berbasis optik pemindai (sensor) yang dikembangkan TOMRA merupakan solusi alternatif hemat biaya dan ramah lingkungan, dengan proses pemilahan komprehensif, antara lain untuk mengenali bahan-bahan berdasarkan warna, kepadatan materi (zat), transparansi dan konduktivitas. Tekonologi tersebut telah meningkatkan kapasitas pemrosesan, aksesibilitas, profitabilitas dan kualitas daur ulang, sekaligus mendukung keamanan pangan (food security) dunia.

Saat ini penduduk dunia rata-rata menggunakan sekitar 1,4 triliun botol plastik/kaleng setiap tahunnya yang dapat dikumpulkan dan digunakan kembali. Setiap tahunnya TOMRA mendaur ulang sekitar 35 miliar botol kosong bekas (setara penghematan emisi Gas Rumah Kaca/GRK dari 2 juta mobil yang masing-masing berjalan sejauh 10.000km). Sepanjang tahun 2018, TOMRA telah membantu penghematan emisi 133.377 metrik ton CO2. Pada periode Januari–April 2019, TOMRA telah membantu penghematan emisi sebesar 42.965 metrik ton CO2.

Penanganan kemasan bekas yang tepat dapat menjaga keutuhan materi (menghindari penurunan kualitas bahan), sekaligus menghemat sumber daya yang berharga seperti energi, air dan migas, serta mengurangi emisi GRK. Ketika mengembalikan botol kosong bekas, pelanggan dapat langsung menerima voucher dari mesin-mesin deposit TOMRA, untuk digunakan berbelanja atau ditukar dengan uang, sehingga memotivasi penggunaan berulang, yang pada gilirannya meningkatkan jumlah pengembalian (deposit) botol bekas di mesin-mesin TOMRA. Solusi andalan tersebut kini menjadi bagian integral dari strategi daur ulang yang praktis, efektif efisien dan menguntungkan bagi semua pihak. Sistem tersebut kini telah berjalan dengan baik selama lebih dari 45 tahun, dengan skala jumlah pengembalian (deposit) botol bekas di mesin-mesin deposit TOMRA di seluruh dunia mencapai lebih dari 70%.

Sistem daur ulang botol bekas telah menjadi salah satu metode efektif untuk menjauhkan sampah botol bekas dari jalanan, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, atau menjadi sampah laut (marine debris). Sistem daur ulang tersebut sangat praktis dan menarik bagi pengguna (biasanya mesin-mesin deposit daur ulang ditempatkan di dalam atau di pintu masuk Supermarket), menjadikan proses daur ulang lebih mudah, berjalan cepat dan bersih, serta dikombinasikan dengan voucher yang langsung dapat diperoleh pelanggan untuk digunakan berbelanja atau ditukar dengan uang, sehingga memotivasi penggunaan berkelanjutan mesin-mesin daur ulang botol/kemasan bekas. Saat ini TOMRA tengah menjajaki kerja sama dengan mitra kerja (perusahaan lokal) di beberapa negara Asia, antara lain dengan perusahan NPC Group di Indonesia, untuk mengembangkan sistem dan teknologi daur ulang botol/kemasan bekas. Investasi dan kerja sama yang terjalin diharapkan dapat menjadi win-win solution yang menguntungkan bagi seluruh pihak, sekaligus menjadi solusi alternatif guna mendukung upaya penanggulangan sampah plastik/kaleng (termasuk sampah laut) dan pengurangan emisi GRK di tanah air dalam kerangka penanganan perubahan iklim.